www.udnas.ac.id

Universitas Dian Nusantara

Solidaritas Penuh Makna

Oleh : Aldwin Surya

       Pasca kasus pidana Prita Mulyasari, kasus perdata mulai disidangkan. Bagi saya, nama Prita menjadi sangat akrab. Pasalnya, nama Prita menjadi nama depan putri saya Pritta Astuti Suryaningtyas yang saat ini duduk di kelas XI SMA. Jadi kesamaan nama depan Prita dengan nama putri saya Pritta telah terbentuk jauh sebelum kasus surat elektronik Prita Mulyasari tentang pengalamannya dengan RS Omni Internasional Tangerang muncul. Akhir dari kasus perdata ini adalah reaksi spontan ditunjukkan sebagian warga saat menggalang koin sebagai tanda solidaritas atas kasus Prita Mulyasari yang harus membayar sebesar Rp 204 juta. Jumlah uang sebesar itu, nantinya diharapkan akan dibayar tunai dengan koin (uang logam) dari nilai Rp 200, Rp 500 dan Rp 1.000. Inilah wujud dari reaksi spontan warga yang boleh melihatnya dari banyak makna. Apakah ini putusan dengan pertimbangan keadilan atau sebaliknya? Bayangkan berapa ton berat koin yang akan terkumpul dan diserahkan kepada pihak yang tepat. Hebatnya, solidaritas mengumpulkan dana itu terus berkembang tanpa melihat batasan usia.
       Namun, lepas dari pertanyaan itu, banyak orang yang ikhlas membuka tabungan mereka masing-masing, menyisihkan koin dari tabungan itu dan menyerahkannya secara individu atau kolektif. Sebelumnya, banyak warga yang memberikan simpati atas kasus pidana Prita melalui facebook Beragam komentar dan pendapat bermuara pada dukungan bagi Prita, sehingga menarik perhatian dan terus dipantau oleh banyak warga di manca negara.

Peka dan peduli

       Solidaritas spontan bukan hal asing bagi rakyat Indonesia. Semangat peduli kepada orang lain baik dalam suka dan duka, sejalan dengan semangat gotong-royong yang masih tumbuh subur. Semangat gotong-royong tidak tergerus meski di era modern kecenderungan individualistik semakin meningkat. Kepekaan dan kepedulian bahkan cenderung meningkat di kawasan perkotaan. Orang pun menyadari bahwa ia tidak dapat hidup sukses tanpa bantuan orang lain. Maka saat orang lain mengalami kesusahan, sikap peka dan peduli muncul dalam bentuk reaksi positif. Lihat pada berbagai kasus bencana yang menimpa bangsa dan rakyat Indonesia. Beragam bantuan sebagai wujud dari solidaritas bagi sesama tetap berlangsung. Dalam keadaan lain, solidaritas atas ketidakadilan yang menimpa orang lain ditanggapi dengan cepat. Dukungan mengalir dari berbagai elemen masyarakat. Itu yang terjadi bagi Bibit-Chandra, pimpinan KPK (non aktif). Kasus perseteruan antara KPK-Polri yang (dulu) dikenal sebagai cicak-buaya segera mendapat dukungan dari banyak elemen masyarakat. Simbol cicak-buaya pun dibuat berbagai ukuran dan dengan bahan berbeda. Simbol-simbol ini sengaja diarak setiap sidang kasus ini di pengadilan.
       Solidaritas spontan atas beragam kejadian yang berlangsung di Indonesia, secara nyata menjadi sinyal positif bagi sensitivitas individu dan kelompok. Sensitivitas ini juga menjadi indikasi bahwa sikap hidup ”siapa lu-siapa gue” yang menjadi salah satu ciri hidup warga kota besar tidaklah benar. Di dalam banyak kasus menunjukkan bahwa sikap peduli kepada sesama yang ditunjukkan oleh warga kota metropolitan semakin tinggi. Lihat ketika warga kota mempelopori menggalang solidaritas atas orang lain yang tertimpa musibah, mendapat perlakuan tidak adil, arogan dan cenderung semena-mena. Jadi, sikap peduli kepada sesama bukan hanya milik warga desa atau pinggiran kota.
       Sikap peduli kepada orang lain, membantu mereka keluar dari kesulitan justru semakin banyak ditunjukkan oleh warga kota metropolitan. Di sejumlah negara maju, sikap peduli kepada kesulitan orang lain sudah ditunjukkan oleh warganya melalui reaksi menggalang solidaritas spontan. Inilah sisi kehidupan yang menggembirakan. Orang-orang yang sudah mapan dalam kehidupannya, justru sangat tanggap kepada kesusahan orang lain. Sikap seperti inilah yang mestinya ditunjukkan oleh pemimpin nasional, aparat pemerintah dan warga kota besar di Indonesia. Bukan malah menunggu orang lain. Saat orang lain sudah bertindak bahkan hadir lebih cepat di lokasi (bencana), barulah sikap peduli ditunjukkan. Padahal saat orang lain mengalami musibah dalam hidupnya, solidaritas spontan menjadi penting dan patut dilakukan secara cepat.

Berkembang

       Syukurlah sensitivitas (kepekaan) warga kota besar di Indonesia semakin halus, berasal dari beragam kalangan dan bersifat spontan dalam merasakan kesusahan yang dialami orang lain. Wujud kepekaan itu ada yang merupakan perlawanan atas ketidak-puasan, ketidakadilan dan tindakan sewenang-wenang. Boleh jadi, inilah pesan moral dari aksi koin peduli Prita. Wujud simpati tanpa pamrih mengalir dari berbagai kota. Mungkin, inilah hasil dari proses demokrasi dan reformasi di Indonesia.
       Warga semakin matang dalam menyikapi hal-hal yang notabene pada era sebelum reformasi (1998) relatif tabu dan tidak berani dilakukan secara terbuka. Kini di era reformasi yang masih terus bergulir, warga mendapat pembelajaran berarti yakni mengasah rasa kepeduliannya untuk orang lain. Jika dinilai tepat, warga semakin berani mengemukakan pendapat dan menggalang solidaritas spontan dari elemen masyarakat. Seperti terjadi pada aksi damai 9 Desember 2009 yang menyuarakan keinginan untuk melawan korupsi dalam berbagai bentuk. Solidaritas spontan untuk melawan korupsi semakin besar dan mulai menampakkan hasil. Salah satu contohnya adalah banyak dana yang tidak terserap dalam berbagai proyek pembangunan. Indikasi ini berarti bahwa banyak aparat pemerintah yang menjalankan tugasnya secara hati-hati dan tidak mau terjebak kepada praktik korupsi. Pasalnya, kini banyak pihak (lembaga, kelompok dan individu) yang memiliki data akurat dan dapat melaporkan penyimpangan penggunaan dana yang berindikasi korupsi. Kini, pelaporan atas data akurat dari lembaga, kelompok atau individu memiliki peluang yang sama untuk ditindak-lanjuti. Jika hasil verifikasi menunjukkan kebenaran, maka pelaporan itu akan naik peringkat untuk diberkas dan dilakukan penyidikan.
       Kepekaan dan kepedulian warga untuk merasakan penderitaan orang lain semakin terasah berkat peran media cetak dan elektronik yang secara rutin menginformasikan beragam peristiwa di dalam dan luar negeri. Kemudahan mendapatkan informasi melalui internet juga semakin membantu warga dalam membentuk jaringan pertemanan sebagaimana dilakukan melalui facebook. Namun, cur-hat melalui media ini pula yang diintip pihak lain sebagai alasan ketidak-puasan sehingga menggiringnya sampai di pengadilan.
       Solidaritas publik yang dilakukan spontan tanpa melihat usia, etnik dan latar belakang sosial menjadi semakin berkembang di Indonesia. Sikap peka dan peduli tumbuh sejalan dengan beragam peristiwa yang dialami orang lain. Apalagi jika yang mengalami berasal dari warga kebanyakan dan memiliki keterbatasan. Kita pun prihatin sebab mereka harus menerima sanksi berat. Manakala pelaku yang terbukti terlibat, justru ”dilindungi” karena memiliki berbagai kekuatan. Sebaliknya, kita pun patut bangga saat melihat tayangan media elektronik yang mengemas acaranya untuk membantu orang lain. Lihat pada tayangan Bedah Rumah, Rezeki Nomplok, dan Tolong. Lihat juga sukarelawan dalam dan luar negeri yang bekerja ikhlas membantu orang yang mengalami bencana. Rasanya tidak adil jika kita berpangku tangan, sementara orang lain memerlukan bantuan. Apa yang kita patut lakukan adalah memberi bantuan dalam bentuk materi, tenaga, waktu, pikiran dan doa. Intinya, bukan kepada besaran bantuan itu, tapi kepada kepekaan dan kepedulian dari diri sendiri.

Penulis adalah pemerhati perkotaan dan Rektor Universitas Dian Nusantara

Tulisan Lainnya :

Info UDNAS Tentang UDNAS Education Journalism Dokumentasi Download Hubungi Kami
Kampus : Jl.Bromo No.35 Medan 20216, Telp.061-7388531, Fax.061-7348258, Email : kampusku@udnas.ac.id, Website Design By : 4zudnas