www.udnas.ac.id

Universitas Dian Nusantara

Janji Membangun Bangsa

Oleh : Aldwin Surya

       Lima tahun lalu saya menulis di harian ini tentang pemilihan presiden (pilpres) 2004 dengan judul Presiden Pilihan Hati Nurani Rakyat ((Waspada, 22/7/2004). Saat tulisan itu dimuat, putaran pertama pilpres (5/7/2004) telah berlangsung. Hasilnya ada dua pasang capres/cawapres yang maju ke putaran kedua yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)/M.Jusuf Kalla (JK) dan Megawati Soekarnoputri/Hasyim Muzadi. Satu pasang lagi yaitu Wiranto/K.H Shalahuddin Wahid gagal maju ke putaran kedua. Pada putaran kedua (20/9/2004), pasangan SBY/JK berhasil menang dan menjadi pemimpin nasional. Saat pilpres 2004 berlangsung, banyak pihak berharap pilpres 2004 akan menampilkan sebuah pendidikan politik berharga bagi bangsa Indonesia. Pasca pilpres, banyak pihak juga berharap pasangan SBY/JK sebagai pemimpin nasional dapat membangun bangsa Indonesia untuk mencapai kesejahteran bangsa menjadi lebih baik.
       Harapan itu mengemuka sebab untuk pertama kali rakyat Indonesia yang berhak sebagai pemilih, boleh menggunakan nurani mereka dalam memilih pasangan capres/cawapres pada pemilu presiden. Disebut boleh, karena inilah pertama kalinya rakyat memilih langsung presidennya melalui sistem pemilu presiden. Kini, saya kembali ingin menulis tentang pilpres 2009 karena momen ini sangat penting dalam kehidupan berdemokrasi bangsa Indonesia.
       Dalam pilpres 2009 pada 8 Juli 2009, harapan rakyat untuk menggunakan hati nurani mereka dalam memilih pasangan capres dan cawapres kembali berulang. Apalagi beberapa capres dan cawapres yang akan bersaing merebut posisi sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia adalah “muka-muka” lama. Pada pilpres 2009 ada empat nama yang kembali akan bersaing merebut hati para pemilih yang berhak. Pertama adalah Susilo Bambang Yudhoyono yang masih menjabat sebagai Presiden Indonesia. Sebagai Presiden yang masih memegang amanah dari rakyat hinggá 20 Oktober 2009, SBY tidak lagi didampingi oleh M. Jusuf Kalla, tetapi Boediono yang menjadi pendatang baru pada pilpres 2009. Kedua adalah M. Jusuf Kalla yang masih menjalankan tugasnya sebagai Wakil Presiden hinggá 20 Oktober 2009. JK akan maju sebagai capres dengan didampingi oleh cawapres Wiranto. Ketiga adalah Wiranto yang menjadi capres pada pilpres 2004. Keempat adalah Megawati Soekarnoputri. Megawati Soekarnoputri pernah menjadi Wakil Presiden dan kemudian menjadi Presiden. Boediono dan Prabowo Subianto merupakan pendatang baru pada pilpres 2009.

Semangat membangun bangsa

       Hal membanggakan dalam persaingan di antara capres dan cawapres 2009 adalah janji para duet capres dan cawapres untuk membangun bangsa. Keinginan itu dapat dicermati dari visi dan misi masing-masing pasangan, dialog interaktif, debat kandidat di media elektronik (TV) maupun pada beragam spanduk/baliho di tempat strategis. Janji membangun bangsa tercermin dari beragam program yang ditawarkan, dijadikan bahan diskusi dan akan dimplementasikan jika terpilih sebagai duet pemimpin nasional. Intinya adalah keinginan melakukan revitalisasi pada bidang ekonomi, sosial-budaya, dan politik.
       Keinginan membangun bangsa agaknya tidak terlalu sulit dilakukan oleh capres dan cawapres pada pilpres 2009 jika ditilik dari latar belakang pengalaman sebagai pemimpin nasional. Tiga dari capres 2009 pernah sebagai presiden dan wakil presiden. Dalam masa kepemimpinan Megawati Soekarnoputri baik sebagai wakil presiden dan kemudian menjadi presiden menggantikan K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dua peristiwa penting terjadi dan berlangsung terus mengikuti kepemimpinannya. Pertama, krisis ekonomi pada Juli 1997 dan kedua reformasi pada Mei 1998. Krisis ekonomi 1997 secara nyata telah membuat ekonomi Indonesia goyah karena depresiasi nilai mata uang rupiah secara mencolok dibandingkan dolar Amerika Serikat. Krisis ekonomi berdampak buruk bagi dunia usaha karena banyak bisnis yang dibiayai dari kredit, harus membayar dalam mata uang asing. Konsekuensinya perusahaan harus menyiapkan dana rupiah lebih banyak akibat depresiasi rupiah terhadap dolar. Keadaan tragis akhirnya dialami dunia usaha sebab banyak bisnis yang terpaksa menurunkan produktivitasnya. Sebagian lagi bahkan menutup usaha karena bangkrut. Situasi inilah yang kemudian mendorong terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK). Jutaan tenaga kerja mengganggur dan harus bertahan hidup untuk membiayai diri dan keluarganya.
       Inilah masa sulit yang dihadapi. Menjadi pengangguran memang tidak nyaman dan boleh menurunkan percaya diri. Beberapa dari korban PHK mampu bangkit dan memperoleh pekerjaan atau berwirausaha. Namun sebagian lagi dipaksa keadaan untuk bekerja apa saja, termasuk melakukan tindak kriminal. Sebagai individu keadaan seperti ini menjadi sangat sulit karena berpeluang menimbulkan terjadinya konflik sosial. Salah satunya adalah kesenjangan sosial antara warga kelas sosial bawah dengan mereka yang tergolong pada warga kelas sosial menengah dan kelas atas. Intinya adalah kemampanan ekonomi yang dimiliki warga kelas menengah dan kelas atas. Sementara warga kelas bawah harus bertarung jiwa raga untuk menafkahi diri dan keluarga mereka. Keadaan inilah yang memicu timbulnya emosi tidak stabil (instability emotion), sehingga menyulut beragam peristiwa seperti tindak kriminal yang dipicu oleh adanya kesenjangan antara kalangan miskin (the have not) dengan kalangan berpunya (the have).
       Saat duet SBY/JK menjadi pemimpin nasional, keadaan ekonmi Indonesia terus diupayakan tumbuh mencapai 6,3%. Tapi pertumbuhan ekonomi sebesar ini memang belum mampu mengurangi angka pengangguran secara mengesankan. Apalagi krisis ekonomi global membuat keadaan ekonomi nasional ikut terpengaruh. Sektor riil dipandang banyak pihak patut dibenahi karena dianggap mampu bertahan dari goncangan krisis global. Sektor riil berbasis usaha mikro dan kecil juga mampu memberi sumbangan berarti dalam penyerapan tenaga kerja. Boleh jadi dengan keadaan itu, tiga pasangan capres dan cawapres yang bersaing pada pilpres 2009 untuk menjadi pemimpin nasional melirik sektor ini sebagai bagian dari visi, misi dan tujuan yang akan dijalankan bila mencapai kemenangan.

Satu putaran

       Hasil perhitungan cepat (quick count) pada pilpres 2009 yang dilakukan oleh beberapa lembaga survei dan media elektronik, menunjukkan peluang bagi duet SBY Berbudi (Susilo Bambang Yudoyono Bersama Boediono) untuk memenangkn pilpres 2009. Dengan capaian di atas 60%, pilpres 2009 berpeluang berlangsung satu putaran saja. Jika hasil perhitungan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada awal Agustus 2009 tidak jauh berbeda, berarti duet SBY/Boediono akan menjadi pemimpin nasional untuk melanjutkan program kerja bagi membangun bangsa Indonesia.
       Bagi SBY amanah rakyat untuk melanjutkan kepemimpinan nasional merupakan tugas berat yang diyakini mampu dilaksanakan secara baik. Dengan dukungan wakil presiden Boediono dan para menteri yang akan dipilih dan dilantik kemudian, kepemimpinan SBY sepatutnya semakin kuat dan padu dalam menghadapi berbagai substansi masalah di dalam dan luar negeri. Beberapa di antara substansi ekonomi yang kini patut diberi perhatian serius antara lain ketergantungan Indonesia terhadap negara lain dalam bentuk hutang luar negeri. Tulisan Sri Hartati Samhadi (Kompas, 3/7/2009), menyorot besaran hutang Indonesia tahun ini sebesar Rp 1.700 triliun lebih. Dalam lima tahun terakhir, hutang melonjak sekitar Rp 400 triliun. Dengan hutang sebesar itu, maka berdasarkan perkiraan kasar setiap penduduk akan menanggung Rp 7 juta lebih hutang. Substansi ekonomi yang juga patut diberi perhatian serius adalah bilangan penduduk miskin. Data BPS menyebutkan 32,5 juta penduduk Indonesia masih berada pada garis kemiskinan.
       Jadi, krisis ekonomi global, utang, bilangan penduduk miskin dan pengangguran memiliki korelasi berarti bagi pembangunan bangsa Indonesia. Ini berarti masalah di luar akan memiliki efek kepada terjadinya masalah di dalam negeri. Sebagai negara yang memiliki kekayaan alam dan kekuatan sumber daya manusia besar, sepatutnya Indonesia mampu mandiri, bangkit dan menjadi negara maju. Pasalnya kekayaan alam Indonesia perlu diolah agar menghasilkan devisa bagi negara. Harapan inilah yang kini diamanahkan rakyat kepada pemimpin nasional 2009-2014. Jika hasil perhitungan resmi KPU menetapkan duet SBY-Boediono sebagai duet kepemimpinan nasional, kita berharap SBY-Boediono bersama rakyat mampu mewujudkan Indonesia sejahtera dan maju.

Penulis adalah pemerhati perkotaan dan Rektor Universitas Dian Nusantara

Tulisan Lainnya :

Info UDNAS Tentang UDNAS Education Journalism Dokumentasi Download Hubungi Kami
Kampus : Jl.Bromo No.35 Medan 20216, Telp.061-7388531, Fax.061-7348258, Email : kampusku@udnas.ac.id, Website Design By : 4zudnas