Duet Pilihan Rakyat
Oleh : Aldwin Surya
Deklarasi calon presiden dan wakil presiden (capres dan cawapres) menjadi momentum penting dalam proses pemilihan presiden (pilpres) Indonesia. Disebut penting karena penetapan duet capres dan cawapres ini telah melalui proses panjang, alot dan menyita waktu. Bagi rakyat, manuver berbagai partai politik (parpol) pendukung duet capres dan cawapres, boleh jadi membingungkan, penuh liku dan sulit ditebak. Meski di kalangan parpol, hal semacam itu adalah dinamika yang lazim terjadi. Namun apa pun manuver dari parpol, makna dari sebuah proses demokrasi sejatinya harus memberikan pembelajaran yang baik bagi satu generasi. Artinya, pembelajaran demokrasi itu idealnya mampu mewariskan kematangan dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara bagi generasi berikutnya.
Kini tiga pasang capres dan cawapres sudah dideklarasikan dan telah didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Ekspos ketiga duet pun sudah dilakukan secara sistematik melalui media cetak dan elektronik. Pertarungan untuk menjadi pemenang sudah dimulai. Menjelang pilpres 8 Juli 2009, rakyat yang memiliki hak pilih boleh mencermati ketiga duet itu sebelum akhirnya menentukan pilihannya.
Hak rakyat memilih menjadi dilematik pada pilpres. Merujuk kepada pengalaman pemilihan umum legislatif 9 April 2009 lalu, banyak pemilih yang tidak dapat menggunakan hak suaranya karena tidak terdaftar pada daftar pemilih. Beragam penyimpangan pun pada daftar pemilih (sementara dan tetap) cenderung terjadi, sehingga menyulut ketidakpuasan banyak pihak. Warga yang sadar terhadap hak pilihnya, harus berjuang untuk mendapatkan hak pilihnya. Namun, kenyataannya mereka memang tidak terdaftar sehingga tetap belum dapat menggunakan hak pilihnya.
Di lain pihak warga yang terdaftar dan boleh menggunakan hak pilihnya justru memilih untuk tidak menggunakan hak suara mereka (golput). Menjadi golput memang hak dari pemilih. Namun, dalam proses demokrasi keadaan ini tidak diinginkan. Pasalnya, pembelajaran demokrasi untuk memercayakan hak suara kepada capres dan cawapres tertentu tidak terlaksana. Padahal kepercayaan memberikan hak suara secara langsung ikut mewarnai penerapan demokrasi di Indonesia.
Ikutan lain dari kecenderungan menjadi golput nampak dari kesiapan panitia pemilihan dalam perhitungan suara. Besaran angka pemilih yang menjadi golput cukup besar. Keadaan ini menyebabkan total pemilih yang menggunakan hak ssuara mereka belum seperti yang diharapkan.
Kebangkitan Nasional
Deklarasi tiga pasang capres dan cawapres menjadi momentum penting menjelang hari kebangkitan nasional ke 101 tahun dan pasca reformasi Dalam kapasitas masing-masing, keenam kandidat presiden dan wakil presiden memainkan peran berarti menjelang dan setelah reformasi di Indonesia. Para capres dan cawapres pun memiliki pengalaman dalam pemerintahan.
Tiga capres memiliki pengalaman sebagai presiden. Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden untuk periode 2004-2009 dan Megawati Soekarnoputri pada periode 2001-2004. Pengalaman Megawati Soekarnoputri sebagai presiden diawali sebagai wakil presiden masa pemerintahan Abdurrahman Wahid (1999-2001). Manakala Jusuf Kalla menjabat sebagai wapres pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2009) Tiga cawapres (Boediono, Wiranto dan Prabowo Subianto) memiliki pengalaman tugas beragam dalam dan luar negeri, sehingga kapasitas mereka dikenal oleh masyarakat internasional.
Jika pilres 2009 menjadi momen kebangkitan nasional, maka rakyat berharap inilah kebangkitan pembangunan ekonomi Indonesia. Wujud pembangunan ekonomi Indonesia idealnya memberi efek positif bagi kesejahteraan rakyat. Isu-isu pembangunan ekonomi tidak lagi hanya sekedar wacana, tetapi konkret dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
Mencermati deklarasi capres dan cawapres yang akan bertarung pada pilres 2009, keinginan untuk melaksanakan pembangunan ekonomi yang mengacu kepada kepentingan rakyat telah diungkapkan oleh ketiga pasang capres dan cawapres. Dalam perkembangan kemudian, kontrak politik yang sudah disusun sejatinya segera disosialisasikan kepada rakyat. Melalui sosialisasi kontrak politik itulah rakyat mengetahui rincian program pembangunan ekonomi ketiga pasang capres dan cawapres.
Optimistik rakyat terhadap pembangunan ekonomi oleh duet capres dan cawapres pada pilres 2009, semakin tinggi mengingat ketiga duet ini memiliki keunggulan-keunggulan.. Sebagai presiden yang masing menjalankan tugas (incumbent), capres Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memiliki pemahaman kuat tentang makna pembangunan ekonomi untuk kepentingan Indonesia di masa depan. Keyakinan itu didukung oleh pilihan Boediono sebagai cawapres. Sebagai profesional, Boediono diyakini akan diterima oleh pasar dalam dan luar negeri. Keunggulan yang didasarkan pengalaman sebagai ekonom diyakini akan memudahkan bagi SBY Berbudi (SBY Bersama Boediono) untuk memulihkan citra Indonesia di mata dunia.
Duet Mega-Bowo memilih ekonomi kerakyatan sebagai upaya melakukan pembangunan ekonomi. Sebagai Presiden Indonesia periode 2001-2004, Megawati Soekarnoputri memiliki pemahaman kuat tentang pemulihan dan pembangunan ekonomi Indonesia. Apalagi saat menjadi wakil presiden (1999-2001) dan kemudian menjadi presiden (2001-2004), Indonesia mengalami krisis ekonomi dan kemudian disusul oleh reformasi. Latar belakang kedua peristiwa itu tentu saja memberi pemahaman kuat tentang perekonomian yang berbasis kerakyatan. Kini sebagai capres, Megawati Soekarnoputri didampingi cawapres Probowo Subianto yang sudah melakukan kontrak politik dengan fokus penugasan membangun ekonomi kerakyatan.
Optimistik rakyat terhadap pembangunan ekonomi oleh duet capres dan cawapres diletakkan di pundak Jusuf Kalla dan Wiranto (JK-Win). Duet ini mencerminkan keterwakilan kawasan Indonesia Timar-Jawa. Di pundak keduanya yang mengusung tekad mewujudkan ekonmi mandiri, wajah ekonomi Indonesia semakin baik. Keinginan mewujudkan ekonomi mandiri didukung oleh pengalaman JK sebagai pebisnis sebelum mengemban tugas sebagai wakil presiden periode 2004-2009. Keunggulan duet yang didukung oleh partai Golkar dan partai Hanura. ini nampak pada hubungan akrab sebelumnya. Beberapa pengurus partai Hanura yang mengusung Wiranto sebagai cawapres JK berasal dari partai Golkar, sehingga hubungan emosional pengurus dan massa kedua partai sudah terjalin harmonis.
Penutup
Tiga pasang capres dan cawapres sudah siap bertarung untuk menjadi pemenang pada pilpres 2009. Kini rakyat lah yang menentukan pilihannya. Siapa pun duet yang terpilih untuk memimpin bangsa dan negara Indonesia lima tahun ke depan, kita berharap citra Indonesia di mata dunia akan pulih melalui tindakan nyata pada semua subtansi pembangunan ekonomi.
Penulis adalah pemerhati perkotaan dan Rektor Universitas Dian Nusantara
Tulisan Lainnya :
|